Rasanya emang gak pernah bisa dipercaya, kalau mama sanggup untuk melarang Dian menerima beberapa tawaran masuk universitas-universitas negeri tanpa tes. Dunia saat itu seperti berhenti pada detik itu juga…
Dian kala itu pulang dari sekolah.. bukan jam pulang sekolah sih, karena baru jam 11 siang, namun wali kelas Dian membolehkan Dian pulang lebih awal. Dengan muka sumringah dan tidak perduli dengan panas matahari siang itu.. Dian langsung ke halaman depan rumah dan menemui mama yang tengah asyik mencabuti rumput-rumput dari pot tanaman kesayangannya.
Ditangan, Dian memegang beberapa formulir yang diberikan wali kelas Dian jam 8 pagi tadi. Dan atas ijin beliau, Dian bisa pulang lebih cepat untuk mendapatkan tanda tangan persetujuan dari orang tua atas pilihan univeristas Dian kelak.
Dengan nafas terburu-buru karena saking senangnya, cepat-cepat Dian bercerita ke mama…
“ Ma… karena nilai rapor Dian selalu bagus dan 4 semester terakhir ini selalu peringkat 1, maka wali kelas Dian memberi kesempatan buat dian untuk melamar ke beberapa universitas negeri melalui program tanpa tes Mam…..”
Semangat Dian begitu tinggi untuk bercerita, sehingga tidak perduli kalau Mama hanya diam saja.
“Dian mau nyoba yang ke Unpad dan ke UI ya Ma… Dian pengen ngambil program hubungan internasional…” dan seterusnya Dian menyerocos… tidak bisa distop. Sibuk menceritakan plan-plan masa depan kuliah Dian…
Tidak lama..Mama yang dari tadi diam lalu berdiri dari tempat duduknya… didekatinya Dian dan dilihatnya formulir-formulir yang telah Dian letakkan diatas meja.
Dipisahkannya formulir-formulir tersebut. Lalu satu persatu, formulir UI, Unpad, USU, UGM dan Undip disingkirkan Mama menjauh dari Dian… tanpa bicara apapun, diberikannya formulir terakhir, yakni formulir pendaftaran ke Universitas Sriwijaya.
Dengan singkat lalu mama bilang …” Isi yang ini saja.. Mama tidak setuju kalau Dian harus kuliah keluar kota Palembang”.
Tidak lama mama duduk disebelah Dian dan mulai menjabarkan berbagai alasan yang saat itu bagi Dian tidak satupun yang masuk akal Dian. Dengan usia Dian 17 tahun, tentu saja tidak ada satu alasanpun dari mama yang bisa Dian terima dengan akal Dian..
Mama bicara tentang kekhawatiran mama akan pergaulan di luar sana, khawatir Dian berubah dan lain sebagainya…..
Pada awalnya Dian mencoba mendebat.. tapi sulit menembus tembok kekerasan hati mama kalau sudah membuat sebuah keputusan.
Akhirnya Dian mengalah, Dian mencoba patuh.
Hanya isak pelan yang akhirnya keluar dari mulut Dian mengiringi air mata …
Dian gak berani berkata apa-apa lagi… Dian jg tidak mau melanjutkan masa depan Dian jika tidak mendapat ridho dari Mama….
Tidak berapa lama, Dian masukkan formulir-formulir itu kembali ke dalam map yang tadi Dian bawa.
**
Keesokan hari, walikelas Dian kebingungan dengan pilihan Dian. Belum lagi fakultas yang Dian pilih dalam formulir Unsri tersebut untuk nomor satunya adalah Fakultas Hukum…
[Kalaulah guru wali kelas Dian itu tahu.. bahwa..setelah mencoba menuliskan pilihan Dian sendiri yakni FKIP Bahasa Inggris mendapat larangan dari Papa, dan Dian ngambek gak mau ngisi formulir tersebut, akhirnya Mama berinisiatif mengambil formulir tersebut dan mengisi pilihan pertamanya dengan Fakultas Hukum… Fakultas yang pernah mengisi hari-hari mama di semester awalnya dulu…hampir 20 tahun lalu…]
**
Semua itu terjadi hampir 16 tahun yang lalu….
Bersama dengan berjalannya waktu.. pada akhirnya Dian justru mensyukuri sikap patuh yang Dian ambil pada saat itu.. dan berterima kasih atas pilihan mama dan papa…
Meskipun diawal perkuliahan, sulit bagi Dian menyukai mata kuliah di Fakultas Hukum, namun jiwa senang berkompetisi dalam sekolah yang masih mengalir dalam darah Dian, serta sikap tidak mau larut dalam kesedihan… akhirnya Dian justru menceburkan diri ke dalam mata kuliah-mata kuliah yang awalnya tidak menyenangkan tersebut dan tertantang untuk menahlukkannya….
Alhamdulillah.. hasilnya pun tidak mengecewakan.. dan membuat mama serta papa bangga terhadap Dian…
**
Cita-cita Dian dahulu yang pengen banget menjadi guru tetap terwujud, meskipun Dian bukan lulusan FKIP, namun Dian berhasil diterima menjadi seorang dosen di Fakultas Hukum yang dulunya tidak Dian sukai..
Keinginan Dian dahulu untuk bersekolah di pulau Jawa pun pada akhirnya terwujud ketika Dian diterima menjadi mahasiswa program doktoral di Universitas Brawijaya Malang.
Kalau sudah begini.. selain rasa syukur yang tidak putus-putus Dian haturkan kepadan Sang Penggenggam Nyawa… juga rasanya tidak pernah salah sikap yang Dian ambil selama ini untuk berusaha menjadi anak yang patuh…[meskipun itu awalnya amat berat], karena Allah SWT akan memberi hikmah dan imbalan yang sepadan dengan kepatuhan kita kepada orang tua kita……
**
gambar diculik dari sini : http://www.duniabelajar.com/gambar-pertanyaan.php?id=3827&imgtanya=1