Mungkin banyak dari temen-temen yang bingung…Cambai itu apa ya? Apa nama seseorang…atau nama benda tertentu..atau nama suatu daerah atau apa ya… ?
Wajar sih kalau bingung..selain emang jarang ditemukan penggunaan kata tersebut, lagi pula kata Cambai sepertinya Cuma familiar di kota Palembang atau di suatu wilayah di Sumatera Selatan..(Dian pernah dengar ada dusun/desa/kampung bernama dusun Cambai..tapi gak pernah tau kebenarannya…).
Anyway… kata Cambai bagi Dian merupakan kata yang membuat Dian selalu kangen akan masa kecil dan orang-orang di Palembang sana… Gimana nggak..sebetulnya kata Cambai pada blog ini Dian ambil dari kata Cambai Agung..nama jalan rumah orang tua Dian di Palembang.
Dian memang lahir di Palembang, tapi bukan di Jalan Cambai Agung tersebut. Dian lahir di sebuah ruko kecil milik kakek dan nenek Dian di kawasan Kinol (sekarang sih masih ada rukonya..posisinya disamping Internasional Plaza di Palembang..). Tapi kata Ortu, kondisi rumah yang amat sempit sementara anggota keluarga mama yang tinggal disana rame banget… maka dianggap kurang kondusif bagi kesehatan Dian sewaktu bayi..
Sooo… pindahlah orang tua Dian ke rumah kontrakan pertama mereka di kawasan Ariodillah… Ini lokasi jalan masuknya di depan kawasan Makan Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang… Disini Dian tinggal hampir 4-5 tahun… Karena akhirnya sekitar tahun 1978an Papa dan mama pindah kontrakan lagi ke rumah yang lumayan lebih besar lagi, karena banyak sodara mama dan papa yang ikut kami…. Waktu itu nama jalan menuju rumah kami itu adalah Jalan Suka Damai..
(Dian sih gak pernah tau kenapa namanya Suka Damai… apa karena emang awalnya daerahnya jauh dari pusat kota..jadi terasa tenang dan damai…meskipun terkadang kedamaian itu terganggu dengan banyaknya kandang Babi waktu itu disekitar rumah..malah sering Dian melihat babi-babi tersebut bolak balik melintasi areal wilayah Jalan Suka Damai tersebut ….hehehe)
Alhamdulillah, awal tahun 80, papa dan mama punya rezeki untuk membeli sebidang tanah di daerah Jalan Suka Damai itu juga..namun lebih dekat ke Jalan besar… (Jalan Basuki Rahmat). Lalu setelah dibangun rumah sederhana diatas tanah tersebut, Tahun 1981an kami pindah ke rumah baru mama dan papa tersebut. (Waktu itu Adek Dian yang bungsu baru berumur beberapa bulan dan Dian sendiri udah sekolah di SDN 168 sementara Dika si anak tengah, masih di rumah, tidak mau sekolah TK namun sudah bisa membaca dan masih minum susu dari botol susu..hehehe).
Entah kapan pastinya…Dian gak begitu ingat…kalau gak salah udah menjelang tamat SD deh.. kemudian Jalan Suka Damai tersebut berubah menjadi Jalan Cambai Agung.. Awalnya masih sepi banget daerah situ.. Namun memasuki tahun 1990an, dimana Jalan Basuki Rahmat sudah menjadi Jalan protokol dan menjadi jalan penghubung menuju Pabrik Pupuk Sriwijaya… daerah Cambai Agung tersebut menjadi ramai dan dipenuhi rumah-rumah yang cukup mewah… Hingga akhirnya banyak jalan-jalan kecil di Jalan Cambai Agung tersebut yang ditulis nama jalannya dengan kata Cambai Agung dan diikuti dengan angka-a
ngka Romawi… Dian lupa berapa banyak jalan Cambai Agung tersebut.. yang Dian tahu ..kemudian hari nama jalan menuju rumah mama dan papa itu disebut Jalan Cambai Agung II. Karena memang posisinya diawal jalan utama tersebut.. Dan di Jalan Cambai Agung II tersebut Cuma ada 1 lokasi tanah kosong dipake orang untuk mengumpulkan hasil panen para pemulung.. kemudian 3 rumah tinggal, yang salah satunya rumah mama papa….
Di rumah tersebut Dian tinggal bersama mama, papa, lalu kedua adek laki-laki Dian.. bernama Dika dan Dinang…juga kemudian berganti-ganti banyak sodara yang ikut mama papa…. Sempat beberapa tahun Nenek ikut kami..sampai ajal menjemputnya… kemudian beberapa orang adek-adek mama silih berganti ikut tinggal disana...hingga akhirnya sekitar tahun 1998, rumah itu hanya dihuni oleh Dian, Dinang dan Mama Papa. Sementara Dika sejak tahun 1993 berada di Medan, sekolah disana.
Di Jalan Cambai Agung itu juga, pertama kali Dian diapelin para penggemar..(dulu gak kenal istilah TTM sih ya..hehehe). Dian juga ngerayain ulang tahun ke 17 Dian di jalan Cambai Agung tersebut…Hingga pernikahan Dian pada tahun 1999, juga diselenggarakan di rumah. Dian menolak di lakukan di gedung..karena Dian betul-betul merasa nyaman jika kegiatan tersebut diadakan di rumah.. (Soalnya kegiatan pesta pernikahan di Palembang umumnya berlangsung cepat, jadi karena diselenggarakan di rumah sendiri makan jam 1 siang Dian sudah bisa berganti pakaian biasa dan bisa istirahat ataupun nganter sodara-sodara ke terminal bus atau airport..hehehe).
Setelah menikahpun Dian masih ikut mama papa di Jalan Cambai Agung tersebut,hingga tahun 2004. Tahun 2004, Dian mulai bersekolah di malang, dan kost disana, sementara Bang Asis bersekolah di AIP Jakarta, dan kontrak rumah petak di daerah Bulak Turi dekat AIP Marunda. Tahun 2005, merupakan kali pertama Dian dan bang Asis kumpul di Jakarta, dan mengontrak rumah mungil di kawasan Pamulang. Saat itulah Dian secara resmi mulai meninggalkan Jalan Cambai Agung…
Sedih sih… apalagi tahun 2006 kemaren, kami resmi membeli sebuah rumah sederhana di kawasan Pamulang tersebut. Papa secara khusus menelpon meyakinkan Dian akan efek dari pembelian rumah tersebut, karena itu berarti Dian secara permanen meninggalkan Jalan Cambai Agung…
Sebetulnya gak 100 % Dian akan meninggalkan jalan tersebut..termasuk rumah dan orang-orang tersayang didalamnya.. karena toh Dian masih berstatus pengajar di Universitas Sriwijaya ..
Dian pun tetap berniat –insyaAllah- akan bolakbalik ngajar disana jika selesai.. Setiap kali Dian pulang kelak..maka Dian akan kembali ke Jalan Cambai Agung… Mudah-mudahan mama dan papa selalu senang dan bahagia menerima keberadaan dian di jalan Cambai Agung tersebut…
Saat ini yang menghuni rumah di jalan Cambai Agung itu adalah mama dan papa (tentu donk..selaku pemilik sah tuh rumah..hehehe),
juga ada Dika yang sejak tahun 2004 pulang ke Palembang, ada Endiana Amri..istri Dika yang dinikahinya di Lahat, 12 Agustus 2006 lalu dan sempat diadakan acara perkenalan dengan tetangga di Jalan Cambai Agung itu juga.. 
dan terakhir ada Dinang….. si bungsu yang sudah bekerja di kawasan dekat rumah juga…
OH iya..berita terakhir sih..ada anggota baru..seekor anak anjing lucu..diberi nama Krypto (secara adek-adek Dian maniak ama Superman sih ya..). Mudah-mudahan tu anjing bisa dijadiin anjing penjaga rumah yang tangguh seperti pendahulunya si Chiko..
yang sudah berhasil beberapa kali mengamankan rumah jalan Cambai Agung tersebut dari ancaman maling…. (hihihi..Dian jadi ingat cerita Mama tentang para pencuri yang sudah menggunakan sarung seperti ninja, hendak merampok rumah di malam hari, jadi lari tunggang langgang karena di gonggong dan digigit oleh Chiko… sayang beberapa waktu setelah itu Chiko mati diracun…Dian curiga..jangan-jangan kawanan perampok yang bagian belakangnya kena gigit Chiko yang meracuni karena balas dendam ya… *hemm..mikir sambil mengerutkan kening* )
Pokoknya banyak hal seru yang Dian rasakan dan habiskan di jalan Cambai Agung tersebut. Mungkin rasa kangen akan orang-orang dan situasi di rumah Jalan Cambai Agung tersebut..akhirnya membuat Dian memilih menggunakan kata Cambai bagi ID Multiply Dian.. hehehe.
Jadi buat temen-temen sekalian.. nama Cambai itu bukan nama Dian..itu adalah nama Jalan dimana ada rumah dan orang-orang didalamnya yang selalu bikin Dian kangen dan membuat Dian selalu ingin pulang….. ^_^
NOTE TAMBAHAN NIH... :
INI ADA EMAIL DARI MAMA DIAN (TERKAIT KATA CAMBAI INI...) :
Assalamualaikum.Hehe, mom dah baca blog dian yang di cambai multi itu, biarpun belum semua. Yang baru2 aja dulu. Abis panjang2 si...Horeee...cambai masuk blog dian.. Cambai itu artinya kebun cabe...hehe, cocok sama penghuninya yang doyan cabe. Itu nama kampung menjelang Prabumulih. Kampungnya pak Saad (pemilik rumah yang kita kontrak dulu). Karena pak Saad penghuni pertama jalan itu, maka dinamakanlah Jalan itu jadi Jalan Cambai agung. Gitu loh story nya.