sumber gambar :
http://www.geocities.com/bruastronomy/julai_1.jpg
Ini cerita waktu Dian masih kecil…kalau gak salah masih SD gitu. Biasanya di bulan ramadhan gini Dian sholat terawih dirumah, dengan imamnya Nyai [Nenek dari sebelah Mama] dan yang menjadi makmum biasanya Dian, Mama, adek-adek mama yang perempuan dan adek2 ipar mama yang perempuan. Seringkali sekali berjamaah sekitar 6-7 orang.
Sekali waktu… diakhir atau seperti saat sekarang ini.. melewati dua pertiga bulan Ramadhan… Nyai nyeletuk bilang “Wah.. sudah mau habis Ramadhan.. udah mau berpisah lagi…. Sedih juga.. karena belum tentu bertemu lagi tahun depan yaaa.”.
Awalnya Dian nggak ngeh alias gak ngerti.. maksud “belum tentu bertemu bulan Ramadhan itu apa”… Hingga pada setahun sebelum Nyai meninggal.. lagi-lagi Nyai mengatakan hal yang sama. Lagi-lagi Dian belum ngerti kenapa Nyai terus menyatakan hal tersebut…
Ketika tahun ke depannya Nyai meninggalkan kami semua… baru terasa oleh Dian rasa sedih itu….
Ternyata umur emang gak bisa diprediksi… Maut begitu dekat dengan urat nadi kita.. hingga kita tidak pernah tau kapan kita akan dipanggil Allah ya…
Makanya Nyai bilang..”belum tentu bertemu lagi tahun depan”.. karena memang kita gak pernah tau kapan Allah memanggil kita.
Hari Raya Dian rasakan sepiiii sekali… karena gak ada Nyai lagi.. [belum lagi waktu itu Papa lagi tugas keluar kota.. dan Dian sendiri sakit…]. Mama sampe-sampe gak masak apa-apa dan menutup semua gordyn rumah supaya berkesan tidak ada penghuni.
Rasa duka justru baru terasa ketika Hari Raya tersebut…
Hari ini.. entah kenapa.. Dian pun merasa sangat sedih… karena bulan Ramadhan yang begitu antusias kita terima kedatangannya.. akan segera berakhir..
Seperti kata Nyai… Entah.. apakah tahun depan masih bisa bertemu bulan Ramadhan lagi…
Kali ini hanya air mata sedih dan rindu akan Ramadhan…yang menemani sholat terawih Dian…
Ringkasan Ceramah Hari INI :
Ceramah kali ini didasarkan kisah sahabat Nabi, bernama Tabiin yang bertanya kepada Ibnu Abbas yang meminta Ibnu Abbas menjawab dengan jujur dan benar :
- Hari apa yang paling bagus /baik ?
- Bulan apa yang paling baik ?
- Amalan apa yang paling baik ?
Jawaban dari Ibnu Abbas adalah :
- Hari jum’at merupakan hari yang paling baik, karena Hari jum’at adalah penghulu dari seluruh hari. Banyak peristiwa baik terjadi di hari jum’at termasuk nantinya janji Allah untuk membuat kiamat di hari jum’at.
- Bulan Suci Ramadhan merupakan bulan yang paling baik karena di bulan ini diturunkan wahyu-wahyu alqur’an pertama kali sebagai petunjuk bagi umat manusia sebagai pembeda yang hak dan batil. Serta terdapat malam lailatur qadar.
- Amalan yang paling baik adalah sholat pada waktunya.
Tabiin lalu pulang, namun belum puas dengan jawaban Ibnu Abbas. Namun beberapa waktu kemudian Ibnu Abbas meninggal dunia.
Lalu Tabiin mendatangi sahabat nabi yakni Ali bin Abi Tholib. Kemudian Tabiin mengajukan pertanyaan yang sama serta menjelaskan jawaban dari Ibnu Abbas. Kemudian ia menyatakan kalau ia belum puas dengan jawaban Ibnu Abbas tersebut.
Ali menjawab : Jawaban dari Ibnu Abbas itu benar. Jawaban saya juga benar. Jawaban saya tidak sama.
- Hari yang paling baik bukan jum’at, sabtu ataupun hari lainnya, kalau hari tersebut TIDAK digunakan untuk ibadah. Maka hari yang paling baik adalah dimana pada hari itu kita dipanggil Allah dalam keadaan khusnul Khatimah.
- Bulan yang paling bagus bukanlah bulan Ramadhan, Syawal atau bulan2 lainnya kalau TIDAK digunakan untuk ibadah dan perbuatan yang baik. [Hadish : Celakalah bagi orang yang di bulan Ramadhan tidak melakukan ibadah apa-apa sedangkan ketika Ramadhan pergi, ia tidak mendapatkan apa-apa]. Jadi, Bulan yang baik adalah bulan dimana kita ingat akan kesalahan-kesalahan yan glalu dan bertobat kepada Allah, dan tobatnya diterima oleh Allah SWT.
- Amalan terbaik bukanlah sholat, jika sholat tersebut dilakukan karena PAMRIH terhadap MANUSIA. Amalan yang paling bagus adalah Amalan yang ikhlas karena Allah dan diterima oleh Allah SWT.