 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Sydney Sheldon |
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Pertama, Juni 2007 Jumlah Halaman : 471 halaman.
Bagi penggemar berat buku-buku karya Sydney, maka merupakan sebuah keharusan untuk memiliki dan membaca buku ini.
Kita tahu sekali bagaimana hebatnya novel karya Sydney Sheldon ini, baik dalam tema cerita, setting, cara penggambaran adegan, plot yang cepat dan ending yang unpredictable. Mulai dari novel berjudul “wajah sang pembunuh”, kemudian “Lewat tengah malam” hingga yang terakhir “apakah kau takut gelap?”.
Buku memoar ini alur ceritanya mirip dengan novel-novelnya sendiri. Plot serta cara penyampaiannya selalu membuat kita ingin tahu apa yang terjadi pada halaman berikutnya sehingga tidak terasa kita telah hanyut dalam cerita buku ini…
Penggambaran kisah pribadi yang rumit dan penuh liku, ternyata membuat Sydney pernah mengalami fase hendak bunuh diri, kemudian kenyataan ia mengidap penyakit manicdepresi serta sakit tulang belakang karena ada pergesaran pada mangkok tulang, semua dihadapi oleh Sydney. Selain itu juga, dengan ciri khas nya dalam membuat humor dalam sebuah cerita, Sydney juga tidak lupa menggambarkan berbagai ironi kehidupannya dalam sudut pandang humor. Seperti perubahan nama belakangnya menjadi Sheldon serta perubahan nasibnya yang turun naik seperti sebuah Lift.
Meskipun memoar ini lebih banyak menggambarkan kehidupannya selama jatuh bangun di dunia perfilman dan menjelang penulisan novel perdananya, namun cukup banyak membantu kita jadi lebih tau mengenai sydney.
Benar-benar merupakan perjalanan hidup yang amat menarik. Sehingga tidak mengherankan jika novel-novelnya juga selalu menarik untuk dibaca. Sayangnya memoar ini sedikit sekali memberi gambaran atau menceritakan proses pembuatan novel-novelnya sendiri… Kebanyakan ceritanya berputar pada musik, skenario, sutradara dan produser film yang pernah dilakukan oleh Sydney sebelum menulis novel. Penggambaran kehidupan pribadinya [pernikahannya] –pelit- ditulisnya. Namun tergambar juga bahwa Sydney telah mengalami 3 kali pernikahan, kemudian pernah berstatus playboy. Disisi lain juga digambarkan dalamnya cinta Sydney kepada istrinya, sebagaimana sering ditulisnya di setiap halaman pertama novelnya yakni “Untuk Jorja” (kata ini ada disetiap novel yang ditulisnya hinga meninggalnya Jorja). Dan “Untuk Alexandra” (istrinya terakhir).
  | Fathin belum pernah baca buku-bukunya... |
 | di perpus kampus buku-bukunya banyak, ntar diliat deh... tapi lagi mau baca John Grisam dulu kayanya... |
 | sengaja apa gak ya????
page efi sama judulnya ya???
hm.....
iya kan ni? |
| |
|