Oeni Dhian with Her Small World..... ^_^

dian's posts with tag: cerpen koe

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen koe
Blog EntryCerita Lucu : "Trauma" May 19, '07 11:07 AM
for everyone

Aku trauma terhadap bunyi petir menggelegar dan aku akan tutup telingaku dengan tangan, memejamkan mata serta berjongkok setiap ada petir, tidak perduli dimanapun saaat itu Aku berada. Namun pengalaman kali ini membuatku harus memperhatikan keberadaan dan keadaan sekitarku sebelum melakukan “kebiasaan” tersebut.

Saat itu siang dan panas, Asumsiku jelas, tidak mungkin akan ada petir. Namun disaat aku tengah mengajar, tahu-tahu mendadak bunyi petir yang menggelegar dari langit. Aku spontan melakukan kebiasaanku. Dalam hitungan detik aku sudah mengambil posisi jongkok dengan gaya menutup telingaku erat-erat. Perbuatan itu baru aku hentikan ketika aku mendengar suara tertawa dan bisik-bisik orang disekitarku. Baru kusadari bahwa aku tengah berjongkok, menutup telinga dengan wajah ketakutan di depan puluhan mahasiswaku.

Sejak itu, Aku jadi hati-hati untuk memunculkan rasa trauma dan takutku terhadap Petir… minimal tidak didepan mahasiswa ku lagi… hehehehe  


         “Jadi, ampir 90 % pacar kalian udah kalian cium bibirnya ?” tanya Aku dengan kebingungan yang mungkin dimata adek-adekku pertanyaan itu membuat Aku jadi kelihatan aneh. “Semuanya…?” tanyaku lagi berusaha meyakinkah pendengaranku.

Diskusi antar kami bersaudara itu, memang kedengaranya lucu kalau tidak mau dibilang aneh kalo sampai orang lain, apalagi kalau orang tua yang mendengarkan. Kami jarang berkumpul. Apalagi sejak masing-masing sibuk dengan kuliah, pekerjaan dan masalah pribadi masing-masing. Aku satu-satunya perempuan dan baru setahun menikah. Aku ibu rumah tangga muda, yang tengah hamil 4 bulan. Ketiga adekku, laki-laki semua, belum menikah. Andi, anak nomor dua, baru 3 hari dirumah, dapat cuti dari pekerjaannya di Medan, Beni, yang nomor tiga, tengah menikmati masa-masa selesai ujian skripsinya, sementara Davi, si bungsu, baru selesai dari ujian semesterannya. Tanpa diatur, disaat Mama dan Papa tengah menghadiri acara pernikahan anak relasi mereka, kami berkumpul di kamar Beni. Aku memang selalu menginap dirumah Mama, kalo Bang Nouval, suamiku, pergi keluar kota, tugas dari kantor. Kebetulan rumahku tak jauh dari rumah Mama.

Obrolan kami berjalan santai, tidak ada indikasi akan ada pembicaraan mengenai ciuman pertama dengan pacar sampai sex bebas di jaman sekarang. Awalnya Aku sendiri yang membuka pembicaraan itu, mengingat Aku khawatir dengan bayi yang diperutku ini nanti kalau lahir, apakah siap menghadapi begitu banyak godaan sex, yang kalau Aku pikirkan saja membuat kudukku berdiri. Aku memang punya pikiran kolot dari dulu, gak ada yang mengatur Aku untuk punya prinsip nggak mau melakukan kegiatan sex mulai dari ciuman ampe yang lainnya kecuali dengan suamiku. Kedengarannya ekstrem sekali, padahal Aku tidak dibesarkan oleh keluarga yang fanatik. Aku hanya nggak merasa nyaman saja dengan perbuatan tersebut. Tapi Aku juga gak pernah memaksa atau teriak-teriak ke orang lain agar mau bersikap seperti Aku. Bahkan terkadang Aku merasa, Aku yang paling aneh diantara saudara-saudaraku, apalagi diantara teman-temanku.

Ketika pertama kali ku tanyakan mengenai ciuman pertama kali, tentunya dibibir, kepada Mama, Aku ingat betul, usiaku waktu itu menjelang 17 tahun, yang mungkin aneh bagi teman-temanku, karena aku belum punya pacar sama sekali. Bukan berarti nggak ada lelaki yang suka ama Aku, karena dengan postur tubuh tinggi semampai, dan wajah manis cenderung seperti wanita dari timur tengah, membuatku cukup punya alasan untuk disukai lawan jenisku. Tapi sekali lagi, Aku punya prinsip berpacaran, kalau Aku yakin dengan kedewasaan dan kematangan berpikirku, Aku nggak mau salah jalan. Sampai detik inipun, Aku sendiri bingung, kenapa Aku sok bersikap demikian. Aku tanya Mama, apa yang menyebabkan Aku bersikap demikian, beliau juga tak mengerti. Mama hanya bilang, “mungkin karena kamu takut dengan Tuhan, Des… hanya itu satu-satunya alasan baik yang selalu kamu pegangkan ?”. Aku nggak mengerti juga.

Atas pertanyaan ku mengenai ciuman bibir itu, Mama cukup lama menjawab, sampai dia menjawabnya diluar keinginanku, karena Mama menjawab dia pernah dicium oleh lak-laki lain selain Papa, ada 3 laki-laki dari masa lalunya yang pernah menjadi pacar Mama yang pernah mencium Mama. Waktu kutanya, “bagaimana dengan Papa, Ma?” Jawabannya pun membuatku lebih kaget, “kalau Papa itu gak usah ditanya, karena selain pacarnya nggak keitung, Papa juga Playboy dijamannya”, jawab Mama dengan geli meliat ekspresi wajahku. “Kenapa Des tanya soal itu ?” tanya Mama. “Ah enggak Ma, Cuma pengen tahu, bukankah itu berdosa Ma?” tanyaku. Mama diam lagi. Sepertinya beliau tengah mencari jawaban yang baik untukku. “Ya betul, berdosa, dan yang tahu apakah kita mau melakukan dosa itu atau tidak, hanya kita Des. Mama tidak mau munafik dan berbohong dengan Des, ataupun adek-adek, karena Mama melakukan hal dosa tersebut, tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Sekarang semua kembali ke diri Des, apakah Des akan ikut melakukan dosa itu, ataukah menganggapnya biasa, karena toh, Mama, Papa dan mungkin adek-adek kamu kelak, melakukannya. Kita pulang ke akhirat nanti akan membawa pahala dan dosa masing-masing, iyakan ?” Aku diam. Tidak mengerti atau mungkin terlalu mengerti, Aku nggak tahu, yang Aku ingat, mulai dari saat itulah, Aku berperinsip bahwa tanggung jawab akhiratku adalah berdasarkan apa yang kulakukan diduniaku.

Sampai menjelang Aku menikah dengan Bang Nouval, Aku nggak pernah melakukan sentuhan pisik kepada pacar-pacarku lebih dari sekedar genggam tangan dan cium kening. Itupun dilakukan oleh pacar-pacarku atas izinku, dan dimoment khusus, seperti ulang tahun ku atau pacar ku. Akibatnya sudah bisa diduga, tak satupun pacarku yang tahan berpacaran denganku. Tapi Aku yakin, Tuhan akan menyiapkan satu orang yang menghargai prinsipku untuk mendampingi hidupku kelak. Dan orang itu telah kutemukan, dan telah menikahiku. Bang Nouval adalah laki-laki baik dan taat dengan agama serta sangat menghargai prinsip yang Aku anut. Aku memberikan ciuman pertama dibibirku setelah kami resmi menikah.

Hal inilah yang kemudian menjadi pembicaraan diantara adek-adekku, yang menganggapku aneh, serta sulit untuk mereka mengerti. Disaat aku ragu dengan kesiapanku sebagai Ibu kelak dimasa yang akan datang, situasi berkumpul seperti ini tercipta seperti hendak memberi ilmu pengetahuan buat ku mengenai bagaimana sebetulnya dunia pergaulan diluar dunia yang Aku bentuk. Gimana adek-adekku berhadapan dengan pergaulan seperti yang terjadi saat ini. Makanya setelah mereka bercerita bahwa, hampir seluruh pacar mereka telah mereka cium di bibir, pernyataan itu membuat jantung ku berdebar keras. Sehingga keluar kalimat aneh dari mulutku, bahwa Aku sangat terkejut dengan pernyataan mereka.

Mereka bertiga tertawa geli, Andi yang paling ganteng diantara saudara-saudaraku yang paling keras tertawanya. “Kak, Kak Desi itu orang yang paling berprinsip yang pernah Andi kenal, mungkin satu-satunya. Mungkin 1 dibanding 100.000 perempuan yang Andi kenal, baru ketemu satu yang kayak Kakak. Tahu nggak Kakak, kalau ada jenis perempuan yang justru kalo nggak kami cium malah ngambek, marah dan menuduh kami nggak suka perempuan”. Mataku makin terbelalak, “Apakah ada jenis perempuan seperti itu ?” tanya ku penuh kekhawatiran. Beni yang paling kalem diantara kami, yang dari tadi banyak diam, akhirnya angkat bicara, “Kak, kami cukup bangga Kakak mampu bertahan dengan prinsip Kakak sampai menikah, tapi kami juga kasihan dengan pacar-pacar Kakak sebelum Bang Nouval, karena mereka pasti gerah dan gak tahan dengan sikap Kakak.”  Aku jadi bingung. Kualihkan mataku ke Davi, “Apakah kamu juga telah mencium pacar-pacarmu Dav, dibibir ?” tanyaku memelas, berusaha mendapatkan jawaban sepertinya yang kuinginkan. Sayangnya Davi menjawab berlawanan dengan keinginaanku. “Iyalah, Kak, apalagi Davi punya rasa ingin tahu juga, belum lagi kalo Bang Andi ama Bang Beni udah cerita rasanya ciuman ?”. Bertambah lemas dengkul ku mendengarnya.

“Sebetulnya nggak ada yang aneh, dari apa yang kami katakan ke Kakak, bahkan boleh dibilang diantara teman-teman ataupun lingkungan kami, kami termasuk yang normal atau boleh dibilang yang paling sopan, karena hanya mencium bibir pacar, Kak.” Lanjut Beni. “Maksudnya ?” Aku bertanya lagi, persis orang bloon yang nggak ngerti apa-apa. Kepalaku mulai pusing memikirkan banyak hal yang tak Aku ketahui, terutama mengenai pergaulan jaman sekarang. “Maksud Bang Beni, teman-teman kami yang lain, sudah melakukan lebih dari itu Kak, bahkan sudah yang paling berbahaya atau betul-betul bikin aib keluargapun telah mereka lakukan, sementara kami tidak sampai kesana, dan dengan didikan Papa dan Mama selama ini, kami tidak akan sampai kesana.” Lanjut Davi dengan memeluk Aku lembut.

Ada apa sih Kak, kog menanyakan hal-hal begini ke kita ? lagian kog kesannya Kak Desi kayak berasal dari planet laen atau terlalu lama hidup di goa deh, sampe-sampe harus kaget dengan kondisi sekarang ini ? ” tanya Andi sambil memeluk bantal. Aku bingung, dan ragu, karena Aku juga sebetulnya nggak begitu yakin apa tujuan ku membuka pembicaraan ini. Aku juga nggak siap dengan kebodohan Aku tentang dunia pergaulan saat ini. Aku juga sedih memikirkan bagaimana usaha Aku kelak untuk melindungi calon anakku dalam menghadapi kehidupan dan pergaulan, dimana manusia-manusianya sudah tidak takut lagi untuk melakukan larangan Tuhannya, dimana hamil diluar nikah bukan lagi dosa, melainkan hanya sekedar aib yang sudah bisa ditutup dengan cukup menikahkan si anak  yang hamil tersebut. Berputar-putar semua pikiran itu. Sampai pusing Aku dibuatnya. Sampai akhirnya Aku sadar dari alam berpikirku, pada saat Beni berkata “Kakak tidak perlu khawatir, jika Mama bisa membentuk anak perempuan yang bisa menjaga martabat dan prinsip hidupnya seperti Kakak, maka Kakak pasti akan bisa membentuk anak dengan karakter yang sama, Kakak cukup memberi pengertian seperti halnya Mama memberi semua pengertian tentang ini semua ke Kakak dulu.” Aku diam. Aku merasa sedikit terhibur dengan kalimat si Beni, meski rasa khawatir tetap bergelut direlung hatiku. Lama kamar tempat kami kumpul jadi hening, sampai akhirnya Aku sendiri mengeluarkan kalimat, yang membuat geli adek-adekku. “Kog, Aku lain ya dari Kalian ? atau aku terlalu bodoh dalam pergaulan ?” tanyaku dengan ragu.

Andi beringsut pelan dari duduknya dan bergerak mencium keningku, lalu bilang, “Karena Kakak, perempuan yang diberi Tuhan cara berpikir untuk menjaga martabat Kakak sebagai Perempuan. Kamipun berdoa, semoga kami kelak punya anak perempuan yang menjaga dirinya seperti Kakak, meski tidak ekstrem seperti Kakak.” Aku Cuma bisa tersenyum mendengar jawaban Andi. Kemudian Aku elus lembut perutku yang mulai membesar, dan berkata dalam hati, “Semoga engkau termasuk manusia yang takut akan Tuhanmu ya Nak, yang patuh akan semua perintahNya, dan berusaha sekuat mungkin menjauhi laranganNya. Aku tahu itu sulit, tapi Aku akan selalu mendampingi mu Nak, menghadapi bebasnya pergaulan diluar sana.”  Andi, Beni dan Davi hanya tersenyum melihat tingkahku, seolah-olah mereka tahu apa yang aku pikirkan. Ya Semoga Aku memang bisa menghadapi dunia pergaulan anakku kelak.

Pelan-pelan aku berdiri dari tempatku duduk, lalu berjalan kearah pintu keluar. Lalu aku berhenti sebentar. Kubalikkan badan dan ku lihat ke arah adek-adekku yang dalam posisi menunggu gerakan atau sikapku berikutnya. Aku tersenyum, ku pandangi mereka satu persatu. “Aku tahu pasti akan sulit membesarkan anak di masa seperti sekarang ini, tapi aku percaya, meskipun aku bodoh dalam pergaulan, ada kalian yang akan membantu aku mengenal dunia yang jauh dari imajinasiku itu. Aku harus menjadi orang tua yang pintar, dan aku yakin kalian akan mau membantuku kan ?” tanyaku dengan penuh harap kepada mereka.

Beni, dafi dan andi tersenyum. Mengangguk pelan. Meski aku ragu apakah mereka akan benar-benar membantuku mengawasi kehidupan anak-anakku kelak. Namun gerakan anggukan kepala mereka memberi sedikit harapan bagi ku, bahwa mungkin aku bisa menjadi ibu dan penjaga moral anak-anakku kelak dalam menghadapi kehidupan duniawi yang masih tak akan pernah kumengerti.

 

 

Palembang, Menjelang Ramadhan diakhir tahun 2002


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help