Sebenarnya beberapa tahun yang silam.. hal ini pernah menjadi diskusi antara Dian dan Mama… Dimana menurut Mama.. kebanyakan [gak berarti semuanya ya…] Pengarang Perempuan memiliki kecenderungan sulit dalam memiliki rumah tangga yang tenang… Dian pribadi awalnya sih gak seratus persen meyakini asumsi tersebut.. meskipun Mama sempat menyebutkan beberapa nama pengarang perempuan terkenal yang hingga saat ini memiliki rumah tangga tidak harmonis, bercerai/berpisah dengan suami atau bahkan tidak menikah sama sekali hingga akhir hayatnya…
Dan memang..jika ditelaah lebih lanjut..perbandingan Pengarang Perempuan yang sukses dalam karir menulisnya dan juga sukses dalam berumah tangga dengan Pengarang Perempuan yang sukses karir menulisnya namun “gagal” dalam berumah tangga adalah tidak imbang.. Dalam arti.. kebanyakan mereka memiliki kecenderungan “sulit” mempertahankan keharmonisan rumah tangganya…
Pemikiran ini kembali hinggap didiri Dian ketika melihat berita gossip…[gak gossip sih.. karena emang terbukti udah ke pengadilan segala ya….].. antara Dewi Lestari.. [Dee] dengan Marcell Siahaan… yang mengajukan perceraian ke pengadilan di Bandung..
Dian jadi inget..lebih dari 1,5 tahun lalu.. menghadiri acara jumpa pengarang di Malang dengan Dewi Lestari ketika ia meluncurkan kumpulan tulisannya dalam buku “Filosofi Kopi”…
Dian terus terang kagum dengan kecerdasan Dewi Lestari.. dan ketika ajang Tanya jawab berlangsung.. Dian sempat bertanya.. “bagaimana pendapat Dewi tentang fenomena bahwa pengarang perempuan memiliki kecenderungan sulit mempertahankan rumah tangganya ?”…
Well .. waktu itu jawaban Dewi sebenarnya tidak begitu memuaskan Dian..dan sangat diplomatis….
Hingga akhirnya tadi pagi menonton Tivi dan melihat kenyataan bahwa ternyata Dewi Lestaripun ternyata kesulitan mempertahankan rumah tangganya dengan Marcell…
Dian jadi bertanya-tanya sendiri..
Mengapa hal ini bisa terjadi ? apakah karena seorang pengarang membutuhkan dunia dan waktunya sendiri ketika ia mengarang.. dan gak mungkin bisa dibarengi dengan kegiatan sebagai seorang istri ? atau memang dibutuhkan seorang suami yang teramat sabar menghadapi istri yang pengarang.. karena seperti Mama Dian bilang.. bahwa ide menulis itu datang kapan dan dimana saja.. jadi rasanya dibutuhkan seseorang yang mengerti sekali ketika ide itu datang dan harus dicurahkan dalam bentuk tulisan.. maka tidak mungkin saat mengarang itu diganggu dengan rengekan anak ataupun memenuhi kebutuhan suami atau menjalankan tugas sebagai istri sepenuhnya….
Atau mungkin karena dunia tulisan sering berdekatan dengan dunia romantis dan dunia ideal..maka kecenderungannya ketika sang perempuan dihadapkan pada kenyataan bahwa segala yang real itu tidak sama dengan yang diharapkan..maka muncul berbagai pemicu konflik yang berujung pada perpisahan….????
Bahkan Dian pernah mendengar “joke” bahwa justru penderitaan dan ujian hidup pada diri seorang perempuanlah yang justru memicu banyaknya ide menulis…
Entahlah….
Meskipun demikian.. diantara rasa sedih dan perasaan miris atas fakta ini.. ternyata masih terdapat beberapa figure pengarang perempuan yang cukup survive sejauh ini dalam membina rumah tangganya… meskipun amat sangat sedikit..namun itu tetap memberikan sedikit angin segar serta membuktikan bahwa masih bisa kog seorang pengarang perempuan yang sukses dalam karir menulisnya juga dapat membina rumah tangganya dengan baik..
Tapi sekali lagi…
We just wait and see aja ya..
Soalnya dulu Dian berharap banyak terhadap rumah tangga Ayu Djenar dan Dewi Lestari.. sekedar berharap dapaat membuktikan asumsi Mama yang salah… tapi toh.. harapan Dian pupus…
Mudah-mudahan apa yang terjadi pada para pengarang perempuan sukses tersebut tidak berimbas pada para pengarang perempuan yang saat ini juga sukses, misalnya seperti kak Helvy dan Mbak Asma Nadia ya… Amin…
gambar diculik dari sini : http://qitori.files.wordpress.com/2007/07/rasul-wanita-tuab.jpg